Rangkuman Tulisan dan Pemikiran Seorang Victor Silaen (VS)

Victor Silaen’s Page

July 23rd, 2008 at 4:25 pm

Buku : Gerakan Perlawanan Rakyat dan Dilema Budaya Batak

Judul Buku: Gerakan Sosial Baru
Sub-judul: Perlawanan Komunitas Lokal pada Kasus Indorayon di Toba Samosir
Penulis: Victor Silaen
Pengantar: George Junus Aditjondro
Penerbit: IRE Press, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2006
Tebal Buku: xlix + 472 halaman (7 bab, 8 tabel, 3 gambar, 4 lampiran)

Gerakan Perlawanan Rakyat dan Dilema Budaya Batak

Gerakan Perlawanan Rakyat dan Dilema Budaya Batak
Resensi oleh : Paul Makugoru

Setidaknya sudah ada dua buku yang membahas masalah Indorayon sebelum ini. Pertama, berjudul Limbah Pers di Danau Toba, Media Pers Menghadapi Gurita Indorayon Anno 2000 (LP3Y Yogyakarta dan Yayasan KIPPAS Medan, 2001), ditulis oleh J. Anto (diberi prolog oleh George Junus Aditjondro dan epilog oleh Ashadi Siregar). Kedua, berjudul Menolak Menjadi Miskin; Gerakan Rakyat Porsea Melawan Konspirasi Gurita Indorayon (Bakumsu, Medan, 2004), ditulis oleh J. Anto dan Benget Silitonga (diberi pengantar oleh George Junus Aditjondro dan Asmara Nababan).

Dalam buku karya Victor Silaen ini, lagi-lagi George Junus Aditjondro yang menulis kata pengantarnya. Dalam artikel pembukanya yang panjang itu (29 halaman), Aditjondro memang menunjukkan dirinya sebagai seorang peneliti sekaligus pengamat masalah Indorayon yang mumpuni. Selain rincinya data yang diungkap (antara lain “keterlibatan” beberapa tokoh dari etnik Batak dan pemimpin Gereja HKBP), ia juga berhasil menjelaskan budaya Batak sebagai “pedang bermata dua” dalam kasus rakyat Toba Samosir melawan Indorayon yang kini sudah berganti nama menjadi Toba Pulp Lestari (TPL) itu. Mungkin itu alasannya sehingga Aditjondro memberi judul artikelnya “Kultur Batak, Pedang Bermata Dua; Belajar dari Gerakan Anti-Indorayon”.

Kisah rakyat Toba Samosir yang berjuang melawan Indorayon, perusahaan raksasa yang memproduksi rayon dan pulp (sejak berganti nama menjadi TPL, tahun 2000, produksinya tinggal pulp saja) ini memang tergolong unik. Pertama, karena ia mampu membuat empat presiden (Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri) kerepotan mengurusinya. Kedua, persoalan ini telah berjalan cukup lama, sejak 1983. Apa sebabnya? Karena sejak awal ia sudah sarat kontroversi, baik dari aspek lingkungan hidup, hukum, juga sosial dan ekonomi. Di dalam buku yang cukup tebal inilah, Victor Silaen membahas berbagai kontroversi itu secara panjang-lebar. Baik berdasarkan data-data kuantitatif dari berbagai sumber, juga data-data kualitatif hasil wawancara dari sejumlah narasumber. Buku ini memang tergolong komprehensif dan komplet. Ada data-data yang memaparkan bagaimana situasi dan kondisi masyarakat setempat, di sekitar lokasi Indorayon, ada juga data-data yang cukup rinci tentang dampak pabrik tersebut terhadap lingkungan alam sekitarnya.

Kini, setelah belasan tahun berjuang melawan Indorayon, menangkah rakyat Toba Samosir yang mendapat dukungan dari banyak pihak dan kalangan itu – bahkan dari luar negeri, menurut catatan Silaen? Jawabannya: ada kalahnya, ada juga menangnya. Kalah, karena faktanya toh Indorayon tak juga tutup hingga kini – ia bahkan sudah berproduksi kembali dengan lancarnya dan semakin banyak saja warga dari etnik Batak yang bekerja di perusahaan ini. Menang, sebab pada tahun 2000, Indorayon harus mengubah dirinya: menjadi lebih ramah-lingkungan (baik lebih ramah terhadap lingkungan hidup maupun sosial), tinggal memproduksi pulp saja (rayon sudah ditiadakan), dan karena itu juga ia harus mengganti namanya.

Memang, selain itu, masih ada sisi-sisi lain jika harus menilai menang-kalahnya rakyat Toba Samosir versus Indorayon ini. Yang jelas, Indorayon terlalu kuat untuk dilumpuhkan. Karena, bukan hanya kekuatan kapital yang berada di belakangnya, tapi juga kekuatan politik bernama negara (Indonesia). Sementara rakyat (khususnya etnik Batak), justru memiliki beberapa kelemahan yang signifikan untuk mampu terus bertahan dalam perjuangan. Utamanya adalah budaya (Batak), yang dalam kasus ini berdimensi dua: di satu sisi mampu memberikan energi bagi perjuangan, di sisi lain bisa dipakai untuk memecah-belah sesama mereka sendiri.

Buku yang terdiri atas 7 bab ini diangkat dari disertasi doktoral Silaen pada Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Tak heran jika isinya tergolong lengkap sebagai informasi, juga komprehensif untuk sebuah karya teoritik-konseptual yang berpijak pada wacana new social movement dan civil society. Apalagi, dalam rangka diterbitkan menjadi buku, karya ilmiah ini telah diperbaiki dan dilengkapinya lagi dengan data-data aktual dan hasil wawancara dengan beberapa narasumber yang kompeten. Tidak berlebihan jika dikatakan buku ini bagus dan bermanfaat untuk dibaca. Bahasanya pun mudah dicerna, karena sederhana.


* Paul Makugoru adalah Wapemred Tabloid Reformata, penikmat buku. Tinggal di Banten.

1

 

RSS feed for comments on this post | TrackBack URI

  • Tools & Widget


    Victor Silaen Feedburner
    Statistik Blog
    Add to Technorati Favorites
    Political Activism Blogs - BlogCatalog Blog Directory
    Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!
    Join My Community at MyBloglog!