Rangkuman Tulisan dan Pemikiran Seorang Victor Silaen (VS)

Victor Silaen’s Page

November 16th, 2008 at 3:14 pm

Pesan di Balik Kemenangan Obama

» by Editor in: Politik, Sosial

Pesan di Balik Kemenangan Obama
Oleh Victor Silaen

Obama

Dunia tanpa dominasi AS akan menjadi sebuah dunia yang banyak diisi dengan kekacauan dan kesemrawutan serta akan lebih tidak demokratis dan tidak memiliki pertumbuhan ekonomi yang memuaskan dibandingkan dengan sebuah dunia di mana Amerika Serikat memiliki pengaruh yang kuat dari negara manapun dalam menyelesaikan masalah-masalah global” (Samuel P. Huntington)

Pengantar

Selasa tengah malam lalu, Rabu siang WIB (5/11/08), Senator Barack Hussein Obama, 47 tahun, calon Presiden Partai Demokrat, berdiri di panggung di Grant Park, kota Chicago, Amerika Serikat (AS), menghadapi lebih 200.000 manusia yang berteriak agak histeris: “Obama, Obama”. Ia sudah dinyatakan oleh pemancar teve CNN sebagai pemenang dalam pemilihan presiden AS 4 November 2008. Kompetitornya dari Partai Republik, Senator John McCain, telah menyampaikan ucapan selamat melalui telepon.
Presiden terpilih Barack Obama (teman-temannya di Sekolah Dasar Jalan Besuki, Jakarta mengenangnya sebagai “Barry” ketika dia bersekolah di sana, 1967-1971) adalah putra dari seorang ayah beragama Islam, asal Kenya, dan ibu beragama Kristen, Ann Dunham dari Kansas, AS. Mereka cerai dan ibunya nikah dengan Letkol (AL) Lolo Soetoro. Melalui perjalanan hidup yang penuh liku, Obama akhirnya berhasil lulus dari Harvard Law School (salah satu perguruan tinggi di bidang hukum yang terkemuka di AS).

Dalam perjalanan karier politiknya, Obama kemudian menjadi anggota Dewan Senat, mewakili negara bagian Illinois, baru dua tahun. Barack Obama, presiden terpilih AS yang ke-44, berdiri saat tengah malam itu, seakan perjalanan yang ditempuhnya menuju Gedung Putih tidak terlalu melelahkan. Padahal, perjuangan politik yang berhasil dituntaskannya selama 21 bulan secara sukses gemilang harus diatasinya melalui berbagai rintangan. Adapun tema-tema kampanye yang diusungnya, antara lain, adalah Untuk “Change We Need” dan “Yes We Can”.

Terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS menandakan bahwa akhirnya seorang kulit hitam dapat menjadi penghuni Gedung Putih. Namun, jauh lebih penting adalah menganalisis kekuatan sosial politik yang ditempa oleh Barack Obama secara jitu sehingga mendorong Amerika Serikat memasuki tahap baru dalam sejarahnya. Apa yang telah terjadi dan berlangsung terus di negara adikuasa itu praktis merupakan revolusi sosial politik. Kalau bangsa-bangsa di luar AS tidak berusaha memahaminya, termasuk kita di Indonesia, maka kita akan dihadapkan dengan kejutan-kejutan oleh pelaksanaan politik luar negeri pemerintahan Presiden Obama kelak.

Di sisi lain, kalau Indonesia mampu memahami laju dinamika sosial politik yang dicetuskan oleh kemenangan Obama ini, sangat mungkin kita dapat memetik manfaat demi kepentingan nasional Indonesia dari kebijakan global yang diterapkan oleh kepemimpinan Presiden Obama. “Fajar baru bagi kepemimpinan AS di dunia sedang merekah,” ujar Obama. “Mereka yang ingin merusak dunia ini, kita akan hantam. Mereka yang mendambakan perdamaian dan ketenteraman, akan kita bantu.” Kata-kata sederhana presiden terpilih Obama yang akan angkat sumpah pada 20 Januari tahun depan, dapat merupakan pangkal tolak dalam mengkaji ulang hubungan bilateral RI-AS.

AS sebagai Sebuah Ide

Bagian ini ingin membahas tentang AS sebagai negara adidaya dan bangsa besar dewasa ini yang dimulai dari sebuah ide. Kapan bangsa dan negara Amerika (Serikat) bermula? Dibandingkan dengan Inggris, Perancis, dan negara-negara Barat lainnya, AS lahir belakangan. Sejarah Amerika baru dimulai pada awal abad ke-16 dengan kedatangan kaum migran asal Inggris, terutama kelompok-kelompok Puritan, yang mengalami penindasan di negeri asal mereka karena perjuangan mereka untuk mereformasi negaranya. Kaum Puritan yang bersemangat reformis (Protestan) itu yakin bahwa kedatangan mereka ke “benua baru” Amerika adalah karena kehendak Tuhan. Amerika adalah tempat yang tepat untuk mengembangkan keyakinan agama mereka. Edward Johnson, salah seorang pemimpin kaum Puritan di abad ke-17 itu, mengemukakan keyakinan mereka, seperti dinyatakan berikut ini:

“New England is the place where the Lord would create a new heaven and a new earth, new churches and a new commonwealth together” (Johnson, Niebuhr, 1952 : 25).

Seorang tokoh kaum Puritan lainnya, John Winthrop, yang kelak menjadi gubernur pertama di Massachusetts, dalam pidatonya tahun 1630 mengatakan sebagai berikut:

“Wee shall be as a City upon a Hill, the eies of all people are uppon us; soe that if wee shall be deale falsely with our god in this worke wee have undertaken and soe cause him to withdrawe his present help from us, wee shall be made a story and a by-word through the world” (Boorstin, 1958: 3).

Pidato tersebut didasarkan ayat-ayat dalam Kitab Injil yang berbunyi demikian:

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5: 14-16).

Bagi kaum Puritan pada masa itu, Amerika adalah sebuah tanah baru yang telah dijanjikan Tuhan sebelumnya (God’s promised land) kepada mereka yang dipilihNya. Adalah Cotton Mather, seorang rohaniwan, yang meyakinkan mereka akan hal itu melalui kotbah-kotbahnya yang mengekspos kisah Nehemiah dalam Alkitab Perjanjian Lama. Ibarat perjalanan bangsa Israel lepas dari perbudakan di Babilonia menuju Judea untuk membangun sebuah Jerusalem Baru, maka demikian pula halnya perjalanan kaum Puritan ke benua baru Amerika adalah untuk sebuah tujuan yang sama (Bercovitch, 1976: 1-34). John Winthrop, demikian menurut Mather, adalah pemimpin kaum Puritan yang telah ditetapkan Tuhan sebagaimana halnya Nehemiah bagi bangsa Israel. Berdasarkan itulah selanjutnya Cotton Mather menyebut John Winthrop sebagai “the American Nehemiah”.

Begitulah kaum Puritan itu bermimpi sekaligus beriman, bahwa Tuhan akan menjadikan mereka bangsa pilihan baru (Israel baru) di tengah bangsa-bangsa lain. Bagi mereka, Amerika adalah tanah terjanji sekaligus Negeri Harapan, sebuah tempat di mana semua mimpi mungkin diwujudkan. Didasarkan mimpi dan iman untuk menjadi terang bagi dunia, maka mereka pun bekerja keras agar berhasil meraih kehidupan yang lebih baik. Pada kenyataannya, sungguhkah mereka mampu memenuhi harapan itu? Mulanya memang tidak, karena kenyataannya benua baru ini merupakan the wilderness yang asing (karena iklimnya sangat variatif), gersang, dan ganas. Namun kelak, mereka berhasil mengubah belantara Amerika menjadi sebuah negeri yang subur dan produktif. Etos kerja Puritan (kelak disebut Etos Protestan) yang mereka terapkan dalam upaya menaklukkan dan menguasai the wilderness itu memberikan dasar penting bagi berkembangnya nilai kemandirian (self reliance), kepercayaan diri (self confindence), dan keyakinan akan masa depan yang penuh harapan (optimism) di dalam diri dan kehidupan mereka.

Demikianlah faktor-faktor yang kelak menumbuhkan perasaan supremasi AS, yang merasa diri sebagai bangsa unggul di antara bangsa-bangsa lainnya. Keyakinan diri sebagai “bangsa pilihan” yang membawa “misi suci” (sense of mission) untuk menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain di seluruh dunia makin diperkuat oleh beberapa kenyataan beri¬kut. Pertama, AS merupakan negara demokrasi pertama (yang memisahkan secara tegas antara negara dan gereja, politik dan agama) semen¬tara yang lainnya masih diperintah kaum feodal yang diktatur. Kedua, bangsa AS dengan masyarakatnya yang pluralistik namun mampu hidup saling berdampingan dalam kebersamaan. Ketiga, keber¬hasilan AS dalam menaklukkan the wilderness dan mengubahnya menjadi the garden yang membawa kemakmuran bagi bangsa. Keterkaitan dan saling pengaruh secara kumulatif dan sinambung antara faktor-faktor itulah yang telah mendasari tumbuhnya keya¬kinan diri yan begitu besar untuk tampil ke depan sebagai bangsa yang harus mem¬berikan keteladanan kepada bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Amerika sebagai Sebuah Kenyataan

Bermula dari sebuah ide, seiring waktu AS pun menjadi bangsa besar yang makmur dan negara adidaya yang kuat. Itu sebabnya kelak mimpi mereka pun berkembang untuk menjadi pemimpin dunia (polisi dunia). Artinya, secara politik, mereka ingin menjadi negara adidaya yang dapat mengatur hubungan antarbangsa (internasional). Berdasarkan itu, maka ada beberapa musuh yang harus diperangi (jihad) oleh mereka: 1) komunisme; 2) militerisme; 3) yang terbaru, yakni terorisme.

Di sisi lain, karena AS juga makin lama makin dipenuhi oleh orang-orang yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia, maka keanekaragaman pun semakin tak terhindarkan. Namun implikasinya, AS belajar untuk menjadi orang-orang yang mampu menolerir pelbagai perbedaan secara wajar (pluralistik). Di sisi lain AS sekaligus juga menjadi bangsa yang pragmatis, yang tak mau terlalu pusing dengan ideologi atau keyakinan yang tak bermanfaat praktis. Itu sebabnya, mereka begitu mudahnya merasionalisasi ajaran-ajaran agama demi menarik manfaatnya di dalam kehidupan. Menumpuk kekayaan, misalnya, dipandang sebagai hal yang wajar sepanjang tidak melanggar hukum. Maka, berkembanglah kapitalisme menjadi ideologi bangsa AS, sementara harta-benda (materi) pun dipandang sebagai berkat ilahi yang justru harus digunakan dengan sebaik-baiknya.

Maka kelak, jadilah AS bangsa yang paradoks: di satu sisi tetap religius, di sisi lain materialistik. Kammen (1972, 178), mengutip pendapat Niebuhr, mengatakan hal tersebut sebagai berikut:

“We are at once the most religious and the most secular of western nations. How shall we explain this paradox? Could it be that we are most religious partly in consequence of being the most secular culture? Whence cometh our ‘Godly materialism’? Perhaps we are so religious because religion has two forms among us. One challenges the gospel of prosperity, success, and achievement of heaven on earth. The other claims to furnish religious instruments for the attainment of these objectives.”

Mimpi Kaum Minoritas di AS

Segala sesuatu dimulai dari mimpi (dream). Itulah kata kunci untuk keberhasilan bagi orang AS. Maka di sana, siapa pun sejak kecil sudah diajar bermimpi di dalam hidupnya. Termasuk juga Orang Kulit Hitam (Afro-American). Di antaranya adalah Pendeta Martin Luther King, Jr., Ph.D (1929-1968), penerima Nobel, pendeta Baptis dan aktivis hak asasi manusia (HAM). Dia adalah salah seorang pemimpin terpenting dalam sejarah AS dan dalam sejarah non-kekerasan pada zaman modern, yang dianggap sebagai pahlawan, pencipta perdamaian dan martir oleh banyak orang di seluruh dunia.

King adalah seorang pendeta di Montgomery, Alabama, yang gigih berjuang melawan diskriminasi rasial. Dalam seluruh aksinya, ia mengikuti prinsip-prinsip Mahatma Gandhi untuk menghindari kekerasan. Untuk beberapa tahun, ia membuat kesuksesan besar, tetapi secara berangsur-angsur orang-orang Kulit Hitam muda menjauhinya karena mereka tidak dapat menerima prinsip antikekerasannya. Sebaliknya, King tidak pernah berhenti dan menyebarluaskan programnya. Ia tidak hanya berjuang melawan diskriminasi orang-orang Kulit Hitam, tetapi juga menentang Perang Vietnam. Kebesaran King terutama terletak pada mimpinya yang besar. Pidatonya yang berjudul “I have a Dream” dalam parade berbarisnya ke Washington, DC (28 Agustus 1963) membuatnya semakin terkenal. Ia dipuja dengan banyak gelar terhormat. Pada 1963, ia menerima Penghargaan Perdamaian Nobel. Ia kemudian ditembak hingga meninggal dunia ketika melakukan aksi di Memphis pada 4 April 1968. Guncangan dari kematiannya menyebabkan banyak kerusuhan dan bentrokan di berbagai kota di seluruh AS waktu itu.

Beberapa kalimat dalam pidato Luther King Jr. yang kiranya patut disimak adalah sebagai berikut:

“I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.”

Sekarang, mimpi pendeta Kulit Hitam itu, untuk suatu saat kaum kulit berwarna dapat berdiri setara dengan kaum Kulit Putih yang selama ini dominan di AS telah menjadi kenyataan. Barrack Hussein Obama, yang berkulit hitam itu, telah menjadi presiden ke-44 AS.

Implikasinya bagi Kita

Dunia kini dilanda demam-Obama. Indonesia pun ramai membicarakannya. Sebab, diakui atau tidak, AS merupakan negara yang sangat penting artinya di antara negara-negara lainnya di dunia ini. Apa pun yang terjadi di AS tentu berimplikasi bagi dunia, termasuk bagi Indonesia. Kemenangan Obama setidaknya membawa pesan: bahwa kaum minoritas juga bisa tampil menjadi yang “nomor satu”. Mungkinkah itu juga terjadi di Indonesia? Jika negara ini konsisten merawat dan mengembangkan demokrasinya, maka saat yang dinanti-nantikan itu pun kelak tiba juga. Perempuan sudah pernah menjadi presiden. Suku non-Jawa juga pernah. Tinggal satu lagi: presiden non-muslim.

Namun, di balik kemenangan Obama, banyak orang meragukan kepemimpinannya kelak membawa “bahaya” bagi AS dan kekristenan. Apa sebabnya? Perlu diketahui bahwa garis kebijakan politik partai-partai di AS telah lama berakar. Partai Demokrat, yang membawa Obama naik ke tampuk kekuasaan, adalah partai yang sejak dulu selalu mengusung liberalisme, anti-militerisme, free choice, dan nilai-nilai sejenisnya yang pada intinya bersifat persuasif. Dalam praktiknya, misalnya, mereka mendukung aborsi dan perkawinan sesama jenis kelamin. Sekolah-sekolah umum dilarang untuk menyelenggarakan pendidikan agama, bahkan melakukan praktik berdoa di kelas. Sebaliknya Partai Republik, yang menjagokan John McCain, memegang nilai-nilai konservatif, mendukung pro-life (yang menentang aborsi) dan menekankan family life. Tetapi, dalam hal menghadapi “musuh-musuh” di luar negeri, mereka tidak segan-segan melakukan kekerasan – seperti yang sudah dilakukan Presiden Bush selama ini di Afghanistan dan Irak.

Tentu saja kepemimpinan Obama, yang diusung Partai Demokrat, selama empat tahun ke depan akan membawa perubahan bagi AS dan kekristenan. Banyak atau sedikit, positif atau negatif, masih sulit diprediksi sekarang. Yang penting bagi kita sebagai Kristen adalah selalu siap mengikuti perkembangan zaman dengan tetap menjaga kewaspadaan berlandaskan nilai-nilai kristiani.

* Makalah pengantar ceramah dalam acara Persekutuan Oikumene di Wisma Bersama, Jakarta, 12 November 2008.

3
  • 1

    nice post gan…

    dapat duit on November 17th, 2008
  • 2

    Pesan di Balik Kemenangan Obama…

    Dunia tanpa dominasi AS akan menjadi sebuah dunia yang banyak diisi dengan kekacauan dan kesemrawutan serta akan lebih tidak demokratis dan tidak memiliki pertumbuhan ekonomi yang memuaskan dibandingkan dengan sebuah dunia di mana Amerika Serikat memil…

    bacaberita.com on November 18th, 2008
  • 3

    Satu hal yang saya kagum adalah mereka membuktikan bahwa demokrasi diatas minoritas dan warna kulit.

    love-ely on November 26th, 2008

 

RSS feed for comments on this post | TrackBack URI

  • Higlight


    Victor Silaen Berpolitik?


    Kalau orang bertanya, mau apa Victor Silaen dengan DPD? Apa yang akan ia perjuangkan nantinya di DPD? Tidakkah ia akan sama juga dengan politisi2 lainnya nanti?


    Terus-terang, saya belum memikirkan soal DPD ini dalam inci yang rinci. Saya hanya ingin, apa yang selama ini selalu saya suarakan dengan lantang melalui tulisan dan di forum2, dapat lebih efektif jika saya berada di lembaga negara. Tapi saya jadi berpikir akhir2 ini, mungkin inilah yang namanya “doing the truth“. Saya harus menghidupi kebenaran yang selalu saya suarakan itu. Saya tidak ingin cuma “omdo“, beraninya bicara “di media atau di forum seminar/diskusi” (atau di milis).


    Itulah yang utama yang ingin saya buktikan nanti. Beranikah saya bicara kebenaran dan keadilan meski orang banyak tidak mendukung saya?


    Baca Selengkapnya..!


  • Tools & Widget


    Victor Silaen Feedburner
    Statistik Blog
    Add to Technorati Favorites
    Political Activism Blogs - BlogCatalog Blog Directory
    Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!
    Join My Community at MyBloglog!